Jumat, 22 Juli 2016

Kampung Vietnam (edisi liburan)


Pertama bingung mau jalan kemana berhubung tanggal tua walau lagi nikmati liburan Idul Fitri tepatnya sebelum Lebaran tanggal 4 Juli 2016, .Saya mulai jalan menuju Jembata 1 Barelang dan suasananya karena lagi bulan puasa jadi sepi pengunjung jadi kami memutuskan pergi agak jauh. Gak tau sebenernya mau kemana karna jalanan sedikit mendung dan sedikit panas (ntah cuaca apa ini) .
Jauh lah saya jalan pokoknya pake helm, dan saat bokong udah pegel udah lewatin jembatan 2, 3, 4, dan 5 yang daerah Batam dan sekitarnya tau sendirilah gimana itu jauhnya.

Sampailah di simpang dan langsung bertanya sama warga setempat
            “Pak misi numpang tanya tempat wisata ‘Kampung Vietnam’ sebelah mana ya pak?” dan saya langsung mendapat jawaban (kayak Ujian aja) saya bertanya karena saya  belum pernah sama sekali ke sana.
Vihara Kamp.Vietnam
Sampai di tempat saya langsung ke Viharanya, banyak lah di sana patung-patung pokoknya bagus deh, bener-bener segala sesuatu untuk Tuhan haruslah yang baik, indah dan bagus-bagus, terus saya tidak terlalu lama di sana karena takut kesorean pulangnya saya lanjut ke tempat peninggalan yang lain.

Oh iya menurut Kompas Print yang saya baca di Halamannya
http://print.kompas.com/baca/2015/02/28-(1)/Kampung-Vietnam%2c-Monumen-Kemanusiaan-Indonesia
kita simpulkan aja ya,
            Kampung Vietnam seluas 80 hektar (lumayan luas kan?) di Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau, sejatinya bukan hanya bekas lokasi penampungan ribuan pengungsi asal Vietnam selama lebih kurang 16 tahun pada 1979-1995.
            Kisahnya berawal dari pergolakan politik yang melanda Vietnam tahun 1970-an. Pergolakan kian memanas sehingga pecah perang saudara antara kelompok masyarakat bagian selatan dan kelompok masyarakat bagian utara negara itu. Karena kondisi semakin tidak menentu dan kian mencekam, ribuan warga bagian selatan Vietnam lalu memilih meninggalkan negerinya. Dengan hanya menggunakan kapal kayu, mereka yang juga disebut sebagai manusia perahu pergi mencari kedamaian atau suaka politik ke sejumlah negara di sekitarnya, termasuk Indonesia. Khusus perjuangan mencari kedamaian hingga ke Indonesia, mereka nekat mengarungi Laut Tiongkok Selatan yang dikenal ganas. Setelah melewati pelayaran selama berbulan-bulan, perahu pertama berpenumpang 75 pengungsi akhirnya tiba di Indonesia, persisnya di Natuna, Kepulauan Riau, 22 Mei 1975.
            Kehadiran pengungsi asal Vietnam di Natuna sekitar 40 tahun lalu itu serentak menjadi pemberitaan meluas. Bahkan, Presiden Soeharto melalui menterinya ketika itu langsung memerintahkan instansi terkait memberikan perhatian berupa bantuan kemanusiaan sepantasnya bagi para pengungsi.Pemberitaan itu ternyata menjadi panduan bagi ribuan pengungsi lain mengikuti jejak pendahulunya ke Natuna. Karena jumlah pengungsi terus bertambah, sementara pengamanan semakin menjadi beban tidak ringan lantaran daya tampung kian terbatas, Presiden Soeharto ketika itu mulai mempertimbangkan untuk memindahkan para pengungsi ke daerah aman, yakni kawasan yang benar-benar tertutup dari kemungkinan berinteraksi dengan warga lokal. Setelah mendiskusikannya dengan Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), dicapai kesepakatan memindahkan para pengungsi ke Pulau Galang, tepatnya di Desa Cijantung, tahun 1979. Setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soeharto, UNHCR lalu membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan pengungsi
.
            Menurut catatan Kepala Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan Galang, di Kampung Vietnam, pemulangan terakhir ke Vietnam terjadi tahun 1995, meliputi 4.750 pengungsi.
(kayaknya gak menyimpulkan saya ini Hehehe)
Lanjut ke cerita Jalan-jalan saya………
            Saya
 mulai dari museum nya banyak Foto-foto jadul yaitu para anggota PBB pada saat itu dan lukisan-lukisan yang menceritakan perjalanan para pengungsi, dan masih ada buku-buku pelajaran jaman dahulu dengan bahasa Vietnam dan yang spesialnya adalah di museum itu juga ada Maket bisak kita lihat seberapa luar tempat pengungsian mereka pada saat itu.
            Dan saya memulai perjalanan kami lagi ke Gereja Katholik menurut saya masih sangat layak untuk tempat ibadah untuk saat ini. Tapi yang buat saya takut dan sangat mengerikan di sana banyak monyet sodara-sodara, saya mulai geli dan takut lucunya sampai-sampai saya mau pulang saja, dan kaeran monyetlah perjalanan saya menjadi kurang seru.


Tips perjalanan ke Kampung Vietnam mengendarai motor dari Batam
  •   Periksa keadaan mesin motor
  •             Jangan lupa pakai helm
  •              Selalu bawa air minum
  • Dan hati-hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar